POLRIWATCHNEWS | MEDAN - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Sumatera Utara mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kepedulian terhadap kesehatan jiwa dengan memberikan ruang bagi pengalaman dan suara individu yang menghadapi masalah kesehatan jiwa, para penyintas, serta keluarga yang mendampingi proses pemulihan mereka.
Ajakan tersebut disampaikan Ketua PDSKJI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Alfi Syahri Rangkuti, M.Ked., Sp.KJ(K) dalam sambutannya pada peringatan World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2026, yang mengusung tema “Lived Experiences, Heard Real Voices, Real Change” atau pengalaman nyata, suara yang didengar, dan perubahan yang nyata. Minggu, (11/10).
Dalam sambutannya, Ketua PDSKJI Cabang Sumatera Utara menegaskan bahwa upaya meningkatkan kesehatan jiwa tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan medis, penelitian ilmiah, maupun kebijakan institusi. Pengalaman langsung individu yang menghadapi persoalan kesehatan jiwa juga harus menjadi pertimbangan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan merumuskan kebijakan.
Menurutnya, di balik setiap diagnosis terdapat manusia yang memiliki harapan, perjuangan, dan potensi untuk berkembang. Begitu pula keluarga yang mendampingi, mereka menghadapi proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat.
Karena itu, masyarakat perlu memberikan ruang bagi individu dengan masalah kesehatan jiwa untuk menyampaikan pengalaman mereka secara terbuka, tanpa takut dihakimi, didiskriminasi, atau dikucilkan.
“Mendengarkan bukan sekadar memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berbicara, tetapi juga bersedia memahami pengalamannya dan menjadikannya sebagai dasar untuk memperbaiki pelayanan serta kebijakan kesehatan jiwa,” demikian pesan utama yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Ketua PDSKJI Cabang Sumatera Utara juga menyoroti stigma, diskriminasi, keterbatasan akses pelayanan, serta rendahnya pemahaman masyarakat yang masih menjadi tantangan dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.
Tidak sedikit individu dan keluarga memilih untuk menutup diri karena khawatir mendapat penilaian negatif atau mengalami pengucilan dari lingkungan sosial.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun masyarakat yang lebih inklusif, memahami persoalan kesehatan jiwa, serta mampu memberikan dukungan tanpa menghakimi.
Peringatan HKJS 2026 diharapkan menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat, bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh dan membutuhkan perhatian bersama.
Sebagai organisasi profesi dokter spesialis kedokteran jiwa, PDSKJI Cabang Sumatera Utara berkomitmen mendorong pelayanan kesehatan jiwa yang komprehensif, berbasis bukti ilmiah, berorientasi pada pemulihan, serta tetap menghormati hak dan martabat setiap individu.
Namun, upaya tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga medis atau sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan pemerintah, institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, dunia kerja, keluarga, komunitas, media, serta masyarakat luas.
Dalam konteks Sumatera Utara, kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memperluas akses pelayanan kesehatan jiwa yang terintegrasi dan berkesinambungan.
Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan terus memperkuat layanan kesehatan jiwa. Sementara itu, Fakultas Kedokteran dan institusi pendidikan dapat berperan melalui pengembangan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan jiwa.
Sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan juga diharapkan mampu memperkuat edukasi publik, meningkatkan literasi kesehatan jiwa, mendorong deteksi dini, memperluas akses pertolongan, serta memberikan pendampingan kepada keluarga.
Lebih lanjut, PDSKJI Cabang Sumatera Utara berharap peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum ini perlu ditindaklanjuti melalui program kolaborasi yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
Kemitraan antara PDSKJI Cabang Sumatera Utara, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, UCHPOLM, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat semakin diperkuat.
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan individu yang memiliki pengalaman langsung menghadapi masalah kesehatan jiwa, para penyintas, dan keluarga mereka terlibat dalam proses perbaikan pelayanan.
Sebab, perubahan yang bermakna bukan hanya perubahan yang dirancang untuk mereka, melainkan perubahan yang dibangun bersama mereka.
Menutup sambutannya, Ketua PDSKJI Cabang Sumatera Utara mengajak seluruh pihak menjadikan World Mental Health Day 2026 sebagai momentum untuk memperkuat komitmen, mempererat kemitraan, dan menerjemahkan kepedulian menjadi tindakan nyata.
Melalui semangat mendengarkan dengan empati dan bekerja sama dengan komitmen, diharapkan masyarakat Sumatera Utara semakin mampu menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan, memberikan akses terhadap pertolongan, serta menjamin setiap individu dapat menjalani kehidupan secara bermartabat.
Pesan utama HKJS 2026 jelas: kesehatan jiwa bukan hanya tentang bagaimana kita memberikan pertolongan, tetapi juga tentang bagaimana kita mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama mereka yang membutuhkan dukungan.
(Redaksi)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar